Rabu, 29 Januari 2014

PSBS Sukses Menggelar Lomba Senam Jula Juli Usia Sekolah Dasar Se Surabaya dan Surabaya Aerobic Competition Se Jawa Timur Tahun 2013

Penulis :
Ir. BIasworo Adisuyanto Aka, MM

Perhimpunan Sidotopo Bugar
Surabaya
Perhimpunan Sidotopo Bugar Surabaya (PSBS) berhasil menggelar Lomba Senam Jula Juli Usia Sekolah Dasar Se Surabaya dan Surabaya Aerobic Competition se Jawa Timur tahun 2013 di City of Tomorrow Jl. Achmad Yani No. 288 Surbaya. Lembaga yang lebih dikenal dengan nama singkat PSBS dalam rangka memperingati Hari Ibu ke 85 tahun 2013 mencoba menggelar jenis olahraga senam baru, yaitu Senam Jula Juli oleh Dinas Kepemudaan dan Kelahragaan Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini digelar mulai tanggal 21 – 22 Desember 2013, dan dikegiatan lomba ini dibuka pada tanggal 21 Desember 2013 oleh Kepala Bidang Pengembangan Olahraga Rekreasi Dispora Provinsi Jawa Timur di Atrium City of Tomorrow (CITO). Dari 36 regu yang mendaftarkan diri ke panitia, 5 regu diantaranya tidak diperkenankan tampil karena mewakili regu dari Warga RW IV Kel. Sidotopo, sedangkan Warga RW IV Kel. Sidotopo adalah bagian yang tidak terpisah dari PSBS. Karena rata-rata pengurus PSBS adalah dari Warga RW IV Kel. Sidotopo. Sedangkan satu regu lainnya tidak hadir, karena harus mengikuti kegiatan lainnya mewakili sekolahnya. Jadi jumlah keseluruhan yang mengikuti perlombaan ini adalah sebanyak 30 regu.

Senam Jula Juli
PSBS adalah penyelenggara yang pertama Lomba Senam Jula Juli yang diciptakan Dispora Provinsi Jawa Timur. Belum ada lembaga atau instansi Pemerintah yang menyelenggarakan Senam Jula Juli ini dalam bentuk lomba. Bahkan PSBS memberanikan diri jenis Senam Jula Juli ini diberikan kepada anak usia Sekolah Dasar. Tentunya, membutuhkan konsentrasi yang lebih dalam mensosialisasikannya dibandingkan kepada bapak-bapak atau ibu-ibu yang selama ini sudah terbiasa melakukan kegiatan senam.


Aktivitas Rutin PSBS Senam Bersama Setiap Hari Minggu Pagi
Aktivitas Lomba & Kegiatan yang dilakukan PSBS
PSBS mengikuti pelaksanan Peringatan HAORNAS XXX Jawa Timur 2013
dan pelaksanaan Hari Ibu Tahun 2012


Perhimpunan Sidotopo Bugar (PSB) Surabaya merupakan sebuah lembaga berhimpun pencinta kegiatan olahraga yang menyadari arti pentingnya berkativitas fisik tersebut  untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani. Organisasi yang berdomisili di Sidotopo Surabaya ini dibentuk sejak tahun 2010 dan mempunyai agenda rutin pelaksanaan senam bersama setiap hari minggu di Jl. Sidotopo Gg. 2 Surabaya. Tidak hanya kegiatan senam bersama yang menjadi ageda lembaga ini, tetapi beberapa bentuk kegiatan lain yang selalu dilaksanakan oleh PSB Surabaya ini adalah berupa :
1.      Menggerakan Warga Sidotopo dan sekitarnya untuk melakukan aktivitas kegiatan rutin pembelajaran senam paket di Balai RW IV Kel. Sidotopo Surabaya, seperti Senam Kebugaran Jasmani (SKJ), Senam Ayo Bersatu Indonesia (SABI). Mulai dari anak usia sekolah dasar sampai dengan Ibu-ibu PKK dan Lanjut Usia (Lansia);
2.      Mengikuti berbagai kegiatan olahraga rekreasi yang dilaksanakan baik oleh Dispora Kota Surabaya maupun Dispora Provinsi Jawa Timur, seperti :
1)    Invitasi Olahraga Tradisional se Surabaya Tahun 2011, Tahun 2012, dan Tahun 2013 di Lapangan Flores Surabaya, yang dilaksanakan oleh Dispora Kota Surabaya;
2)    Membina dan mengirimkan remaja putri mengikuti “Lomba Senam Ngapoteh se Jawa Timur Tahun 2011 di Royal Plaza Surabaya, yang dilaksanakan oleh Dispora Provinsi Jawa Timur;
3)    Membina dan mengirimkan anak usia sekolah dasar mengikuti “Lomba Senam Kinestetika se Jawa Timur Tahun 2012, yang dilasanakan oleh Dispora Provinsi Jawa Timur, berhasil merebut sebagai juara harapan I.
3.      Menyelenggarakan Peringatan Hari Ibu setiap tahun.
1)      Mengadakan Jalan Sehat Warga Sidotopo dan Sekitarnya, selalu diikuti  peserta dengan jumlah lebih dari 2.500.000 orang;
2)      Mengadakan “Lomba Menggambar dan Mewarnai” usia PAUD dan Taman Kanak Kanak se Kecamatan Semampir Surabaya;
3)      Mengadakan Bazar Rakyat dan UKM di Wilayah Sidotopo Surabaya.

Dalam rangka mewujudkan rasa kebersamaan dan selalu mengedepankan emansipasi kaum wanita, pada peringatan Hari Ibu ke 85 tahun 2013 Perhimpunan Sidotopo Bugar Surabaya berupaya tetap melaksanakan dan mewujudkan beragam aktivitas kegiatan yang terus digulirkan, utamanya pada tahun ini adalah melaksanakan kegiatan pokok yaitu “Lomba Senam Jula Juli Usia Sekolah Dasar se Surabaya 2013”, namun sebagai penguat terlaksananya kegiatan dimaksud, juga melaksanakan kegiatan “Surabaya Aerobic Competition se Jawa Timur 2013”. Selain menumbuhkan rasa kebersamaan dan selalu mengedepankan emansipasi wanita, kegiatan ini juga dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan gerakan panji olahraga, yaitu “mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga” serta menciptakan budaya berolahraga dalam iklim yang sehat, khususnya dilingkungan pelajar sekolah dasar. Melalui kegiatan ini, siswi sekolah dasar diharapkan mempunyai peranan penting di dalam memberikan andil terhadap pembaharuan nilai – nilai di masyarakat. Dengan adanya kesadaran dan pengertian ini, siswi sekolah dasar akan terdorong untuk melakukan kegiatan olahraga secara teratur.

Pengurus PSBS secara keseluruhan adalah Warga RW IV Sidotopo, bergabung secara sosial ingin mengedepankan kegiatan olahraga. Dengan olahraga masyarakat akan sehat dan bugar. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang pertama yang dilaksanakan di luar Wilayah Sidotopo Surabaya. Setiap tahunnya, PSBS dan Pengurus RW IV Kel. Sidotopo juga melaksanakan peringatan Hari Ibu, tetapi tempat pelaksanaannya selalu di Wilayah Sidotopo. Baru kali ini, PSBS memberanikan diri melaksanakan kegiatan di area Plaza. Dukungan luar biasa juga diberikan oleh Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur. Semangat inilah yang menjadikan Ibu-Ibu Tim Penggerak PKK RW IV Sidotopo yang tergabung dalam PSBS berani melaksanakan Lomba Senam Jula Juli Usia Sekolah Dasar se Surabaya tahun 2013.

Ibu-ibu Tim Penggerak PKK RW IV Sidotopo Surabaya yang tergabung dalam
Kepengurusan PSBS

Pelaksanaan Lomba Senam Jula Juli Usia SD se Surabaya 2013
Dampak positif pelaksanaan Lomba Senam Jula Juli ini diberikan kepada anak usia sekolah dasar adalah  gelora berolahraga pada pelajar sekolah dasar akan tercipta dan tumbuh dengan baik. Sehingga akan melahirkan budaya berolahraga pada kalangan pelajar sekolah dasar dan akan menggelorakan iklim yang memungkinkan terciptanya bibit-bibit unggul olahragawan.

Memperhatikan animo dan keinginan kuat pelajar sekolah dasar Kota Surabaya yang sangat besar terhadap perlunya dilaksanakannya aktivitas olahraga, maka  dalam rangka memperingtati Hari Ibu ke 85 tanggal 22 Desember 2013 ini Senam Jula Juli Dispora Jawa Timur menjadi pilihan. Mengingat bahwa Senam Jula Juli Dispora Jawa Timur ini mengandung unsur budaya asli Jawa Timur dan memiliki gerak dinamis dari unsur  gerak senam dan beladiri.

Acara Pembukaan Dihadiri Kepala Bidang Pengembangan Olahaga Rekreasi Dispora Jawa Timur, Drs. Abd. Haris Ramadhan, MM dan Dispora Kota Surabaya, Ir. Yudha Satria.
Lomba senam Jula Juli usia Sekolah Dasar tahun 2013 dihadiri Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur, yang dalam hal ini diwakili Kepala Bidang Pengembangan Olahraga Rekreasi, Drs. Abd. Haris Ramadhan, MM dan Kepala Bidang Olahraga Rekreasi Dispora Kota Surabaya, Ir. Yudha Satria mewaili Ibu Walikota Surabaya yang tidak dapat hadir karena ada tugas kedinasan di Jakarta. Acara berlangsung meriah, setelah dibuka oleh Kepala Bidang Pengembangan Olahraga Dispora Provinsi Jawa Timur, seluruh regu peserta melakuan senam jula juli bersama dan disaksikan seluruh undangan dan pengunjung City of Tomorrow (CITO) Surabaya.

Kegiatan berlangsung selama dua hari, hari pertama dipergunakan sebagai ajang babak kualifikasi/penyisihan dari ke tigapuluh enam regu peserta dan diambil 10 terbaik untuk maju kebabak berikutnya, yaitu babak final pada hari kedua taggal 22 Desember 2013. Panitia tidak tanggung-tanggung memberikan kepercayaan dalam halpenilaian kepada Dewan Juri Senam yang berasal dari PMKI (Perhimpunan Masyarakat Kebugaran Indonesia) Jawa Timur. Selain mereka adalah para juri yang mempunyai sertifikasi nasional, ternyata mereka juga sebagai pencipta gerak senam jula juli yang dipercaya Dispora Jawa Timur. Pilihan kepada mereka sebagai juri sudah sangat tepat dan hasilnyapun tidak megecewakan.



Hampir keseluruhan peserta menampilkan rangkaian gerak senam jula juli secara baik, dan hasil babak kualifikasi pengambilan 10 peserta finalis berlangsung sangat baik di hari pertama tanggal 21 Desember 2013. Adapun 10 finalis yang terpilih dan berhak melanjutkan di hari kedua tanggal 22 Desember 2013.

Pelaksanaan Finalis Lomba Senam Jula Juli Usia  SD se Surabaya tahun 2013 juga berlangsung tertib, dimulai tepat pukul 10.00 wib dan berakhir peda pukul 12.30 wib. Kemudian dilanjutkan acara upacara pemberian penghargaan kepada pemenang. Berta acara pemenang dibacakan oleh Ketua Dewan Juri Dra. Kusnanik dengan hasil sebagai berikut :


Dr. Sugeng Riyono
Kepala Dispora Prov, Jawa Timur
Saat pembacaan berita acara pemenang, juga hadir ditengah-tengah para peserta finalis Bapak Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur. Selain beliau hadir sebagai Kepala Dinas juga sekaligus mewakili BUDE KARWO yang pada saat itu tidak dapat hadir. Dalam sambutan penutupan, Bapak Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur menyapaikan terima kasih dan penghargaan kepada Perhimpunan Sidotopo Bugar Surabaya (PSBS) yang telah memberikan fasilitas ruang gerak bagi siswa-sisiwi sekolah dasar dan Madrasyah Ibtidaiah dengan menyelenggarakan kegiatan Lomba Senam Jula Juli se Surabaya secara baik dan sukses. Dengan adanya kegiatan lomba ini, secara otomatis anak usia sekolah dasar akan aktif bergerak. Baik dilingkungan sekolah maupun ketika mereka berada di lingkungan rumah. Senam Jula Juli ini bisa menjadikan pilihan alternatif terbaik dari berbagai jenis senam lainnya yang juga sudah berkembang di masyarakat. Tapi karena kemasan rangkaian gerak mudah dan ringan, maka anak-anak pun akan mampu melakukan gerakan ini dengan baik.
Dr. Sugeng Riyono di dampingi Ketua PSBS
saat memberikan sambutan pada
acara penyerahan hadiah kepada pemenang Lomba Senam
Jula Juli Usia SD se Surabaya 2013

Kegiatan ini sangat membantu tersosialisa sinya gerak senam baru, yaitu senam Jula Juli dikalangan sekolah dasar. Oleh sebab itu, BUDE KARWO sebagai penggagas terciptanya Senam Jula Juli ini merasa gembira dan memberikan dukungan dana kepada PSBS berupa uang pembinaan bagi 10 peserta finalis. TIdak hanya diperuntkan bagi yang memperoleh juara I, II, dan III saja tetapi bagi peserta yang memperoleh predikat sebagai harapan I, II, dan III bahkan bagi mereka yang berada pada raning 7 s/d 10 juga mendapatkan uang pembinaan. Pemberian uang pembinaan BUDE KARWO untuk 10 peserta finalis disambut gembira, tidak hanya peserta tetapi juga pelatih dan seluruh orangtua yang kebetulan mengantar putra-putrinya.

PSBS telah melaksanakan Lomba Senam Jula Juli Usia Sekolah Dasar secara baik dan sukses. Menjadi pengalaman luar biasa bagi seluruh panitia, yang kesemuanya adalah Kolaborasi Warga RW IV Kel. Sidotopo Kecamatan Semampir Surabaya. Kolaborasi Pengurus RW IV Sidotopo, Tim Penggerak PKK RW IV Sidotopo, dan Karang Taruna RW IV Sidotopo. Selain itu, dukungan teman-teman dari KRASS (Komunitas Radio Antar Surabaya dan Sekitarnya) menjadikan pelaksanaan Lomba Senam Jula Juli ini semakin tertata rapi. Sebab mereka bekerja membantu kepanitiaan sejak satu hari sebelumnya di CITO Plaza. Membantu menata peralatan, backdrop, dan berier penyekat batas area. Kerjasama ini menjadikan beban panitia pelaksana lebih ringan. Kelebihan mereka dengan peralatan komunikasinya, semakin memudahkan koordinasi antar panitia. 




SELAMAT & SUKSES
Kepada Pengurus PSBS dan Warga RW IV Sidotopo Surabaya
Sidotopo ....... Sehat dan Bugar

Senin, 07 Oktober 2013

KARAPAN SAPI Termasuk Olahraga Tradisional

(sebuah pendapat)
Penulis :
Biasworo Adisuyanto Aka
Sumber : Wikipedia

Menyikapi berbagai pertanyaan dari masyarakat Jawa Timur terkait dengan atraksi perlombaan adu cepat sapi, yang setiap tahun selalu dilaksanakan di Pulau Madura, yang lebih dikenal dengan nama “KARAPAN SAPI”. Pertanyaan yang sering dilontarkan adalah “apakah perlombaan Karapan Sapi termasuk jenis cabang olahraga tradisional ?”. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini, selain tidak ada buku yang menjadikan referensi juga organisasi FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) belum mengelompokan kegiatan ini dalam ruang lingkup olahraga rekreasi. Sampai dengan saat ini, belum ada organisasi olahraga yang mewadahi kegiatan ini, juga belum ada organisasi yang menyebutkan bahwa “Perlombaan Karapan Sapi” merupakan jenis cabang olahraga tradisional. Artinya, belum ada salah satu lembaga atau kelompok masyarakat yang mengkleim perlombaan yang sangat popular di Pulau Madura ini ke dalam ruang lingkup “Olahraga Tradisional”. Bahkan bentuk kebijakan pemerintah yang menetapkan kegiatan ini ke dalam ruang lingkup olahraga rekreasi juga belum ada.

Karapan Sapi
Gambar diambil dari Internet
Bila ditinjau dari penulisan pada Wikipedia, Karapan Sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pualau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang manarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan sapi lainnya. Trek pacuan tersebut sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit. Beberapa Kabupaten di Pulau Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di Kabupaten Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Pertanyaan seputar “Karapan Sapi” yang sering muncul sebagaimana disebutkan di atas masih sulit untuk dijawab, baik oleh FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) maupun masyarakat umum. Bila kita cermati bentuk kegiatan lomba “Karapan Sapi” ini sangat mirip dengan olahraga balap kuda (pacuan kuda). Pacuan Kuda mempunyai keserupaan adu kecepatan dalam menentukan kemenangan. Peserta yang tercepat mencapai garis finish, akan dinyatakan sebagai pemanang pada perlombaan ini. Begitupula dengan perlombaan “Karapan Sapi” yang sering diselenggarakan di Pulau Madura ini merupakan adu kecepatan dua ekor Sapi yang menjadi kesatuan utuh yang tidak terpisahkan. Perbedaan yang paling tampak dan menonjol dari perlombaan adu cepat ini adalah cara menunggang dan jumlah binatang yang dipergunakan. Balap Kuda hanya menggunakan satu satu ekor kuda dengan satu orang Joki yang duduk di punggung Kuda. Sedangkan Karapan Sapi menggunakan dua ekor Sapi dengan satu orang Joki yang berdiri di kayu antara kedua Sapi.

Mencermati kemiripan ini, tentunya kita dapat menyimpulkan bahwa “Karapan Sapi” juga merupakan kegiatan “olahraga”. Karena untuk perlombaan Balap Kuda sudah cukup lama dalam ranah pembinaan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), bahkan pada pelaksanaan PON (Pekan Olahraga Nasional) balap kuda merupakan salah satu cabang olahraga yang diperlombakan. Oleh sebab itu, ketika ada kemiripan pada perlombaan “Karapan Sapi” dengan perlombaan balap kuda ini, maka kita berani mengatakan bahwa “Karapan Sapi” juga merupakan kegiatan “Olahraga” sebagaimana “Balap Kuda/Pacuan Kuda”.

Apalagi dalam perlombaan “Karapan Sapi” juga dibutuhkan ketrampilan dan kemampuan fisik seorang Joki untuk mengendalikan arah laju larinya “Sapi” hingga garis finish. Tanpa ketrampilan dan kekuatan yang baik, seorang Joki akan mengalami kesulitan mengendalikan laju lari dua ekor “Sapi” dalam keadaan lari kencang dan hanya berdiri dalam sebuah balok kayu yang terkait pada dua ekor sapi tersebut. Secara otomatis, peserta Karapan Sapi yang ingin menjadi pemenang harus dikendalikan oleh seorang Joki yang memiliki ketrampilan dan kekuatan fisik memadai.

Hal inilah yang dapat mengklasifikasikan lomba “Karapan Sapi” ini ke dalam ruang lingkup “Olahraga”. Selain mengandung unsure keterampilan gerak, juga membutuhkan kekuatan fisik tubuh seorang Joki. Untuk memperoleh kekuatan fisik tentunya dibutuhkan program latihan yang sistemik, berkesinambungan dan teratur serta memenuhi kaedah kebugaran jasmani.

Nah… sekarang yang perlu dikupas pada kegiatan “Karapan Sapi” ini apakah juga merupakan “olahraga tradisional” sebagaimana pertanyaan masyarakat di atas. Hal ini perlu kita tinjau lebih spesifik tentang keberadaan “Karapan Sapi” ini melalui jejak sejarah. Karena pengertian “olahraga tradisional” adalah merupakan kegiatan olah fisik yang mengandung nilai-nilai budaya, yang pada hakekatnya merupakan warisan leluhur nenek moyang kita.

Wikipedia menceritakan sejarah munculnya karapan sapi, bermula dilatar belakangi kondisi tanah Madura yang kurang subur untuk lahan pertanian, sebagai gantinya banyak orang Madura yang berada di daerah pesisir mengalihkan mata pencahariannya sebagai nelayan. Sedangkan lainnya, kebanyakan beternak sapi dan sekaligus dipergunakan untuk bertani khusus dalam membajak sawah atau ladang. Suatu ketika seorang ulama Sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi (Pangeran Katandur), ingin memberi motivasi kepada masyarakat untuk mau kembali bertani dengan memperkenalkan cara bercocok tanam yang mudah, yaitu dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal dengan masyarakat Madura dengan sebutan “nanggala” atau “segala” yang ditarik dengan dua ekor sapi. Cara bercocok tanam yang diperkenalkan Pangeran Katandur ini, adalah untuk memudahkan para petani menggemburkan tanah yang sangat keras. Yang selama ini menggunakan tenaga manusia dan sebuah alat cangkul, dirubah dengan memanfaatkan tenaga dua ekor sapi. Sedangkan alat cakulnya diganti dengan sebuah alat yang terbuat dari kayu dengan disain khusus sebagai alat bajaknya dan diikatkan secara kuat kepada dua ekor sapi. Sebagai pengendali kedua ekor sapi tersebut dalam menentukan  perpindahan dan perputaran arah dibutuhkan seorang petani yang berdiri di atas kayu alat bajak. Cara bercocok tanam yang diperkenalkan Pangeran Ketandur ini menjadikan petani bersemangat karena menjadi lebih ringan dalam mengerjakan lahannya.

Agar petani mampu menguasai cara mengendalikan kedua ekor sapi saat membajak sawah dan sapi-sapi yang dipergunakan menjadi lebih kuat, Pangeran Ketandur memunculkan gagasan sebuah permainan dalam bentuk adu ketangkasan dan kecepatan sapi dan peralatan bajaknya secara utuh. Para pemabajak sawah harus melatih dua ekor sapinya mampu berlari cepat dan mengalahkan pembajak lainnya. Gagasan diadakannya adu cepat sapi ini kemudian menjadi tradisi di Pulau Madura dan diberi nama “Karapan Sapi”. Karapan Sapi pada akhirnya menjadi kegiatan rutin setiap tahun, khususnya setelah menjelang musim panen habis. Kegiatan lomba Karapan Sapi ini didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi dengan mengelilingi arena pacuan dan selalu diiringi musik Seronen.

Bila dibandingkan dengan balap kuda, perlombaan Karapan Sapi terlihat lebih sengit dan heboh. Hal ini ditinjau dari faktor kesulitan saat mengendalikan binatang tunggangannya. Seorang joki balap kuda tidak serumit joki karapan sapi yang harus mengendalikan sepasang sapi dengan posisi kendali sambil berdiri di atas kayu bajak. Faktor kusulitan inilah yang menjadikan perlombaan Karapan Sapi menjadi seru dan lebih heboh dibandingkan dengan balap kuda.

Ditunjau dari pemahaman kedua permasalahan di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa perlombaan “Karapan Sapi” juga merupakan “Olahraga Tradisional”, yang merupakan jenis permainan fisik dan mengandung nilai-nilai budaya tradisional turun menurun hingga sekarang. Acara Karapan Sapi atau Bull Race ini selalu berhasil dalam penyelenggaraannya dan mampu menyedot perhatian masyarakat luar, baik dari nusantara bahkan mancanegara. Acara bergengsi bagi masyarakat Madura ini adalah dalam rangka memperebutkan Piala Bergilir Presiden (Presiden Cup), dan biasanya diselenggarakan dipusat Kota Pamekasan. Selain menggelar adu cepat sapi, acara ini juga menghadirkan unsur kesenian dan budaya Madura. Sehari sebelum perlombaan karapan sapi, biasanya didahului dengan kesenian Sapi Sonok. Jika di medan laga, si Sapi bertarung dengan tenaga untuk dapat berlari cepat, lain halnya dengan pagelaran Sapi Sonok yang bertarung dengan mengandalkan kecantikan dan keluwesannya berjalan di catwalk ala Sapi Sonok. Rupanya, bukan Cuma kesenian berbau sapi saja yang digelar pada saat itu, pada malam harinya juga digelar berbagai kesenian budaya dan adat Madura, seperti festival tarian tradisional dari berbagai Kabupaten, fesitival makanan, dan kesenian ala Madura lainnya.

Kamis, 12 September 2013

Permainan Panjat Pinang Termasuk Olahraga Tradisional

(sebuah pendapat, yang pernah ditulis Tahun 2013)
Penulis :
BIasworo Adisuyanto Aka

Pertanyaan FORMI Kabupaten Jember yang pernah dilontarkan beberapa waktu yang lalu kepada FORMI Jawa Timur, terkait dengan pelaksanaan permainan Panjat Pinang yang sudah menjadi budaya dan selalu dilaksanakan setiap tahun di Kabupaten Jember. Yang menjadi pertanyaan FORMI Kabupaten Jember adalah “Apakah permainan panjat pinang ini termasuk olahraga tradisional ?”. Ini pertanyaan menarik yang sebelumnya FORMI Jawa Timur juga tidak pernah menelusuri dan tidak memiliki data jenis permainan panjat pinang ini secara baik. Secara logika, permainan ini sangat memenuhi kaidah kebugaran jasmani, maka bila permainan ini di masukan ke dalam kategori olahraga rekreasi sangat memenuhi ketentuan. Tetapi bila kita tanyakan bahwa permainan ini kategori tradisional atau tidak, hal ini perlu ada penelusuran sejarah.

Kita mengetahui bahwa hampir semua rakyat Indonesia pasti tahu dengan kegiatan ini. Lebih semaraknya ketika mendekati peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan 17 Agustus dan sesudahnya, banyak masyarakat melaksanakan permainan panjat tebing. Selain asyik untuk ditonton, juga para pemainnya dapat menikmati kegembiraan dalam upaya memanjat pohon pinang ini dengan susah payah untuk dapat meraih hadiah. Hadiah diletakkan pada ujung atas, sedangkan pohon pinang yang dipanjat diluluri sesuatu agar pohon pinang menjadi licin dan sulit untuk dipanjat. Semakin sulit dipanjat, permainan ini semakin asyik dan ramai. Kegiatan ini selain untuk melengkapi kemeriahan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, juga sebagai bentuk menanamkan rasa semangat kemerdekaan kepada para remaja dan masyarakat umum.

Namun banyak juga yang beranggapan bahwa permainan panjat pinang ini ternyata punya sejarah yang kelam di Indonesia. Bahkan muncul dalam sebuah sinetron Para Pencari Tuhan karya Deddy Mizwar, yang memunculkan adegan dialog menolak permainan panjat pinang untuk dimasukan pada acara peringatan 17 Agustusan, dengan alasan bahwa permainan ini bukan asli permainan rakyat Indonesia tetapi permainan bangsa Belanda. Tidak hanya itu, yang lebih ekstrimnya lagi bila kita baca tulisan pada Wikipedia yang meriwayatkan permainan panjat pinang berasal dari jaman Belanda. Permainan ini diadakan oleh orang Belanda ketika mempunyai acara hajatan besar, seperti pada pelaksanaan acara pernikahan, dan lain-lain. Pada pelaksanaan acara pernikahan ini, orang Belanda memberikan kesempatan kepada orang pribumi untuk turut serta dalam perayaan pernikahan, yaitu dengan cara membagi-bagi hadiah. Ketertarikan orang pribumi pada acara ini karena ada hadiah yang diperebutkan, biasanya berupa bahan makanan, gula, keju, dan terkadang juga pakaian. Namun demikian, tindakan yang dilakukan orang Belanda tidak sekedar memberikan bingkisan hadiah kepada semua orang pribumi yang berkerumun, tetapi harus melalui rintangan, dan rintangan yang dibuat tidaklah mudah ditaklukkan bagi orang pribumi. Bahkan, banyak orang pribumi yang tidak dapat mengambil dan menerima hadiah diperebutkan. Tetapi justru berdampak kepada penderitaan dan rasa sakit pada sekujur tubuhnya. Ketika itu rasanya mustahil orang pribumi mampu mengambil hadiah-hadiah tersebut yang diletakan di puncak sebuah pohon pinang. Pohon pinang yang dipergunakan juga sangat tinggi, selain itu juga dilumuri minyak licin atau oli. Kondisi yang tidak terlatih dalam memanjat dengan kondisi licin tersebut mengakibatkan banyak yang berjatuhan, bahkan tidak sedikit yang mengalami cidera. Kondisi memanjat yang sulit ini terkadang diabaikan oleh orang pribumi, mereka hanya megandalkan ambisi untuk dapat meraih barang-barang yang diletakan di atas pohon pinang, karena mereka berharap apabila barang-barang tersebut mampu mereka ambil akan sangat membantu melanjutkan kehidupan sehari-hari.

Sulitnya orang pribumi memanjat dan meraih hadiah yang terletak di atas pohon pinang tersebut menjadi tontonan yang menarik bagi orang Belanda. Dengan suka ria mereka tertawa dan bergembira serta bersorak-sorak ketika ada orang pribumi tidak berhasil dan bahkan terjatuh. Sebgaian orang menganggap bahwa permainan panjat pinang ini merupakan bentuk permainan orang Belanda untuk melecehkan orang pribumi. Tetapi bila kita mengambil sisi positifnya dari permainan ini tentunya tidak menganggap bahwa permainan ini adalah untuk melecehkan orang pribumi, tetapi justru makna yang terkandung dalam permainan ini yang harus ditangkap adalah sisi positifnya. Sisi positif yang tertuang dalam permainan ini sangat banyak, diantaranya adalah beberapa hal sebagai berikut :
1.    Bentuk permainan panjat tebing ini bila ditata secara baik dalam aturan permainannya akan berdampak positif untuk meningkatkan kebugaran dan menghilangkan kejenuhan akibat aktivitas rutin yang dilakukan seseorang;
2.    Walaupun permainan panjat pinang ini diperkenalkan olah orang Belanda, tetapi  sudah menjadi permainan orang pribumi cukup lama, yaitu sejak nenek moyang semasa penjajahan Belanda. Turun temurun permainan ini sangat disukai, karena sudah ditemukan cara memanjat yang baik sehingga permainan ini mempunyai cara untuk mendapatkan hadiah yang terpasang di atas pohon pinang;
3.  Makna yang terkandung dalam permainan ini sangat mendalam, yaitu bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dalam meraih setiap pekerjaan sangat diperlukan strategi, kebersamaan, kekuatan, kekompakan, keuletan, dan koordinasi. Agar memiliki semua komponen yang dibutuhkan tersebut tentunya dibutuhkan konsep pembelajaran peningkatan sumber daya manusianya melalui bentuk pelatihan.

Melihat dari permasalahan tersebut penulis dapat menarik kesimpulan bahwa permainan panjat tebing ini dapat dikategorikan sebagai olahraga tradisional. selain tumbuh dan berkembang secara baik dimasyarakat sudah sejak nenek moyang kita semasa penjajahan orang Belanda, tetapi juga permainan ini sudah menjadi tradisi daerah ter tentu yang selalu melaksanakan kegiatan ini setiap tahun.

Senin, 09 September 2013

FORMI Jatim Sukses Gelar Kejurnas Taiji Quan & Kejuaraan Terbuka Wushu Yunior 2013

Penulis          : 
Biasworo Adisuyanto Aka
Narasumber : 
FORMI Jawa Timur, Jl. Kayon No. 56 Surabaya

Surabaya - Orrekjatim, Pelaksanaan “Kejuaraan Nasional Taiji Quan & Kejuaraan Terbuka Wushu Junior 2013” telah berakhir hari minggu tanggal 08 September 2013 tepat pukul 17.10 wib di Atrium lt. 2 Lenmarc Mall Jl. Bukit Darmo Bolevard Surabaya. Kejuaraan ini ditutup oleh Wakil Ketua Pengprov. Wushu Indonesia Jawa Timur, Drs. Pujianto. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) Jawa Timur, Drs. Suparman, M.Si. yang juga hadir pada saat acara penutupan berlangsung. Kegiatan ini sangat membantu program pembinaan Pengprov. WI Jawa Timur, selain sebagai wahana evaluasi juga memberikan kesempatan yang banyak kepada atlet Kota Surabaya dan Jawa Timur untuk menunjukan kemampuannya kepada atlet provinsi lain. Drs. Pujianto menambahkan dalam sambutannya, bahwa kegiatan ini sebaiknya dilaksanakan secara rutin setiap tahun sebagai wahana kompetensi bagi atlet Wushu di seluruh Indonesia dalam kemasan yang sangat baik. Pujianto menyampaikan bahwa tahun depan Pengprov. WI Jawa Timur akan lebih mendukung kegiatan ini jauh lebih baik lagi. Selain menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum FORMI Jawa Timur, Pujianto juga menyampaikan terma kasih kepada Ketua Panitia Penyelenggara, Thomas More Suharto. Atas kerjakerasnya dengan seluruh panitia, penyelenggaraan kejuaraan ini dapat dilaksanakan secara meriah dan mewah. Banyak sponsor yang mendukung kegiatan ini, walaupun tidak di dukung sedikitpun dari dana APD Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tetapi kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik. “Kegiatan ini tidak akan terselenggara seperti ini, bila Ketua Panitia dan seluruh jajaran kepanitiaannya tidak berbuat maksimal” kata Pujianto dalam sambutannya. “Pak Thomas dan seluruh unsur kepanitiaannya dan dalam koordinasi FORMI Jawa Timur, telah mampu menjalin kerjasama dengan berbagai sponsor”, “Tanpa tangan dingin Pak Thomas, belum tentu kegiaan ini berjalan demikian baiknya” tambah Pujianto dalam sambutannya.

Turut hadir dalam acara pembukaan, selain dari unsur Wushu Indonesia juga hadir Ketua Umum dan Sekretaris Umum FORMI Jawa Timur serta beberapa pengurus FORMI Lainnya yang terlibat dalam kepanitiaan. Kepala Bidang Olahraga Rekreasi DISPORA Kota Surabaya, Yudha Satria juga hadir sampai dengan acara penutupan berakhir. Kegiatan “Kejuaraan Nasional Taiji Quan & Kejuaraan Terbuka Wushu Junior 2013” ini telah berlangsung mulai tanggal 5 – 8 September 2013 di Atrium lt. 2 Lenmarc Surabaya.

Kejuaraan nasional ini merupakan pelaksanaan yang pertama kalinya oleh FORMI Jawa Timur. Betuk kegiatan berskala nasional ini menjadi pengalaman pertama bagi pengurus FORMI Jawa Timur. Sebelumnya, kegiatan FORMI Jawa Timur hanya berskala daerah di Jawa Timur. Ini merupakan terobosan dan keberanian pengurus FORMI Jawa Timur untuk melaksanakan kegiatan besar berskala nasional. “FORMI Jawa Timur sampai dengan sekarang belum punya anggaran tetap dan belum mampu membantu biaya pelaksanaan kepada organisasi olahraga rekreasi yang ingin mengadakan kegiatan” kata Drs. Suparman, M.Si Ketua Umum FORMI Jawa Timur. “Seperti kegiatan kejuaraan nasional ini, FORMI Jawa Timur tidak memberikan apa-apa kepada panitia pelaksana, tapi saya bersyukur dan menyampaikan terima kasih kepada panitia penyelenggara yang mampu mencari dukungan biaya melalui sponsorship” kata Suparman disela-sela acara penyerahan medali kepada pemenang. “Biaya keseluruhan penyelenggaraan didapat dari dukungan sponsorship dan pendaftaran peserta” kata Suparman. Menyadari kondisi keuangan FORMI Jawa Timur yang belum disikapi secara baik oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagaimana KONI Jawa Timur, maka pengurus FORMI Jawa Timur berupaya menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan dan perguruan tinggi di Jawa Timur.

Kegiatan kejuaraan Nasional Taiji Quan dan Kejuaraan Terbuka Wushu Yunior, mendapat dukungan fasilitas venues dari Lenmarc Mall Surabaya secara penuh. Mulai dari tempat perlombaan, sound system, kursi dan meja, Medali pemenang, piagam penghargaan serta piala tetap, semua didukung penuh oleh Lencmarc Mall Surabaya. Sedangkan konsumsi panitia selama pelaksanaan juga di dukung sponsorship.

KONTRA VERSI SEPUTAR PELAKSANAAN KEJUARAAN TERBUKA WUSHU

Kejuaraan Terbuka Wushu Yunior 2013 merupakan bagian yang tidak terpisah dengan pelaksanaan Kejuaraan Nasional Taiji Quan 2013. Kedua kegiatan tersebut  merupakan rangkaian kegiatan yang menjadi satu pelaksanan dalam kendali kegiatan FORMI Jawa Timur. Banyak masyarakat menilai tentang pelaksanaan kegiatan yang diselenggarakan FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) Jawa Timur beberapa waktu yang lalu tersebut, tepatnya tanggal 5 – 8 September 2013 di Atrium lt. 2 Lenmarc Mall Jl. Bukit Darmo Bolevard Surabaya, khususnya pada pelaksanaan “Kejuaraan Terbuka Wushu Yunior 2013”. Ada yang menilai positif bahwa FORMI Jawa Timur telah berhasil dengan baik dalam melaksanakan kegiatan ini, terutama dari hampir seluruh peserta menyatakan puas dan penyelenggaraan event FORMI Jawa Timur ini tidak mengecewakan. Karena selain seluruh juri/wasit mempunyai kompetensi di bidangnya secara baik, juga semua juri/wasit mendapatkan rekomendasi dan penunjukan dari Pengprov. WI Jawa Timur dan PB. Wushu Indonesia. Padahal cabang olahraga “Wushu” bukan menjadi ranah kewenangan pembinaan dalam wadah FORMI Jawa Timur, tetapi FORMI Jawa Timur mampu menyelenggara kan kegiatan ini dengan baik dan sukses.

Tanggapan negatife juga muncul dari sebagian kalangan olahraga, khususnya mereka-mereka yang tergabung sebagai pelaku olahraga prestasi. Tidak hanya itu, beberapa pengurus KONI dan beberapa karyawan Dispora pun menanyakan keabsahan penyelenggaraan kejuaraan Wushu tersebut yang Banyak masyarakat mengetahui, bahwa “Wushu” merupakan cabang olahraga prestasi yang telah memiliki organisasi resmi dan menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia sejak cabang olahraga “Wushu” dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XV tahun 2000 di Jawa Timur, dengan nama “Wushu Indonesia”. Walaupun sebelumnya, cabang olahraga “Wushu” sudah dimunculkan pada pelaksanaan PON XIV/1996 di Jakarta, tetapi masih exhibition dan belum menjadi pertandingan yang diperhitungkan medalinya.

Mereka menganggap tidak selayaknya FORMI Jawa Timur menyelenggarakan sebuah event cabang olahraga “Wushu”, karena bukan menjadi kewenangan pembinaan. FORMI Jawa Timur seyogyanya tidak menyelenggarakan “Kejuaraan Terbuka Wushu” yang seharusnya menjadi ranahnya KONI. Bahkan, ketika FORMI Jawa Timur mengajukan surat rekomendasi kepada Ketua Umum Pengprov. WI Jawa Timur awalnya tidak diproses, namun dengan adanya pendekatan dan penyampaian tujuan pelaksanaan adalah membantu proses perkembangan pembinaan Wushu di Jawa Timur khususnya dan Indnesia pada umumnya, Pengprov. WI Jawa Timur pada akhirnya bersedia menerbitkan surat rekomendasi pelaksanaan kegiatan Kejuaraan  Terbuka Wushu 2013 yang menjadi bagian tidak terpisah dari pelaksanaan “Kejuaraan Nasional Taiji Quan 2013”.

Pertimbangan Pengprov. WI Jawa Timur mengijinkan FORMI Jawa Timur melaksanakan Kejuaraan  Terbuka Wushu pada pelaksanaan Kejuaraan Nasional Taiji Quan dan Kejuaraan Terbuka Wushu Yunior tahun 2013” adalah sebagai berikut :
1.     FORMI Jawa Timur melakukan proses mekanisme penyelenggaraan secara benar, yaitu dengan mengajukan permohonan surat rekomendasi pelaksanaan kepada Pengprov. WI Jawa Timur dan PB. Wushu Indonesia. Jangankan FORMI Jawa Timur yang mempunyai legalitas organisasi dari Pemerintah Pusat, event organization (EO) pun dapat menyelenggarakan kegiatan serupa dengan catatan mendapatkan rekomendasi dari induk orgaisasi cabang olahraga terkait (tertuang dalam UU No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional). Jadi tidak punya alas an yang kuat bila Pengprov. WI Jawa Timur melarang;
2.     Kegiatan tersebut sangat menguntungkan dan membantu dari sisi pembinaan skala daerah dan nasional;
3.     Melibatkan Pengprov. WI Jawa Timur dan PB. Wushu Indonesia dalam menentukan dan menugaskan wasit/juri pertandingan;
4.     Peraturan pertandingan yang akan diterapkan sudah memenuhi prosedur keabsahan peraturan yang diberlakukan “Wushu Indonesia”.

Dengan lebih mengedepankan proses pembinaan, pada akhirnya pelaksanaan “Kejuaraan Nasional Taiji Quan & Kejuaraan Terbuka Wushu Yunior 2013” berjalan sukses. Jawa Timur…….. Jaya Luar Biasa !!!

“Membangun Kebersamaan Menuju Prestasi Gemilang”, dari kebersamaan kita berharap akan melahirkan sebuah prestasi gemilang untuk Indonesia…….. tercinta.

Jumat, 06 September 2013

PEMBUKAAN KEJURNAS TAIJI QUAN 2013

Janji Atlet & Wasit
Acara Pembukaan Kejurnas Taiji Quan & Kejur Terbuka
Wushu Junior 2013
Orrekjatim, Walaupun sempat menjadikan persiapan pelaksanaan “Kejuaraan Nasional Taiji Quan & Kejuaraan Terbuka Wushu Junior 2013” mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan dunia olahraga. Khususnya, dari kalangan olahraga prestasi yang menyalahkan kegiatan ini diselenggarakan oleh FORMI Jawa Timur, yang dilihat dari sisi kewenangannya hanya membina olahraga rekreasi. Namun acara ini mampu digelar secara baik oleh FORMI Jawa Timur, diawali dengan pelaksanaan pembukaan yang meriah di Atrium lt. 2 Lenmarc Surabaya. 


Kepala Bidang Pengem
Drs. Abd. Haris R, MM
Kabid. Pengembangan
Olahraga Rekreasi
bangan Olahraga Rekreasi DISPORA Provinsi Jawa Timur, Drs. Abd. Haris Ramadhan, MM mewakili Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur membuka secara resmi acara tersebut pada hari Kamis tanggal 5 September 2013 siang hari mulai pukul 14.00 s.d. 16.00 wib. Kemudian acara dilanjutkan di rumah kediaman Ibu Walikota Surabaya, yaitu acara Welcome Party, penyambutan Pejabat Pemerintah Kota Surabaya kepada seluruh atlet dan official peserta “Kejuaraan Nasional Taiji Quan & Kejuaraan Terbuka Wushu Junior 2013”

Drs. SUPARMAN, M.Si.
Ketua Umum FORMI Jatim
Kemeriahan acara pembukaan, selain dihadiri pejabat pemerintahan juga hadir komunitas olahraga rekreasi dan pengurus FORMI Jawa Timur. Sejumlah 368 atlet dari 39 sasana perwakilan 9 provinsi di Indonesia mengikuti defile peserta semakin mewarnai dan memeriahkan acara pembukaan “Kejuaraan Nasional Taiji Quan & Kejuaraan Terbuka Wushu Junior 2013”. Setelah defile peserta, acara pembukaan diisi dengan berbagai acara sambutan dan diakhiri dengan acara tambahan berupa penampilan Barongsai dan berbagai demonstrasi pertunjukan jurus-jurus Taiji oleh beberapa atlet dari gabungan sasana di Kota Surabaya.

Kegiatan “Kejuaraan Nasional Taiji Quan & Kejuaraan Terbuka Wushu Junior 2013” ini akan berlangsung mulai tanggal 5 – 8 September 2013 di Atrium lt. 2 Lenmarc Surabaya. Panitia sangat berharap, keberhasilan pada pelaksanaan acara pembukaannya mewarnai keberhasilan lainnya, khususnya pada pelaksanaan perlombaan Taiji Quan dan Wushu Junior keesokan harinya hingga selesai.

Minggu, 25 Agustus 2013

Gowes Kemerdekaan 2013

Penulis :
Ir. BIasworo Adisuyanto Aka, MM
Surabaya 25 Agustus 2013

Dr. Sugeng Riyono
Kadispora Prov. Jawa Timr
Surabaya, Orrekjatim – Akan menjadikan program rutin Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur untuk setiap bulan Agustus akan menggelar bentuk kegiatan yang mengandung unsure 5 M, yaitu murah, meriah, missal, menarik dan manfaat, dalam bentuk kegitan ini berupa FUN Bike. Kegiatan yang mengandung unsur 5 M ini bertujuan menggelorakan dan memberikan semangat masyarakat Jawa Timur untuk gemar berolahraga, yaitu sebagai alternative pilihan adalah dengan bersepeda. Kegiatan Fun Bike merupakan aktivitas bersepeda yang dilakukan secara santai dengan menempuh jarak tertentu. Selain memberikan kesadaran kepada masyarakat akan manfaat bersepeda terhadap kesehatan dan kebugaran tubuh, aktivitas ini sekaligus juga dapat sebagai sosialisasi hemat energi. Dengan bersepeda bukanlah hal yang memalukan, justru dengan melaksanakan aktivitas ini secara rutin akan memberikan manfaat yang luar biasa terhadap kesehatan.

Kepala Dispora Prov. Jawa Timur
Saat Pemberangkatan GOWES Kemerdekaan 2013
Kegiatan FUN Bike tahun 2013 ini bertajuk “GOWES KEMERDEKAAN 2013” yang menjadikan program unggulan Bidang Olahraga Rekreasi Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur. Sebagaimana tahun sebelumnya, Dinas kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi JawaTimur mengemas kegiatan FUN Bike ini secara baik dengan Harian Surya pada tanggal 25 Agustus 2013, start dan finish di Tugu Pahlawan Surabaya, Jl. Pahlawan Surabaya.

Harian Pagi Surya mengemas kegiatan ini dengan baik, dan antusiasme warga Jawa Timur terhadap kegiatan Gowes Kemerdekaan 2013 ini sangat luar biasa, kurang lebih 20.000 biker memadati Jalan Pahlawan sejak pukul 05.30 wib, Minggu 25 Agustus 2013. Diberangkatkan tepat pukul 06.30 wib oleh Plt. Gubernur Jawa Timur, Rasiyo dan didampingi Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Panitia penyelenggara mengambil rute Gowes Kemerdekaan 2013 menempuh jarak 20 kilometer,  dengan start di Tugu Pahlawan, menuju Jalan Kramat Gantung, Genteng Kali, Ngempal, Simpang Dukuh, Gubernur Suryo, Panglima Sudirman, Urip Sumoharjo,  Raya Darmo, Dr. Soetomo, Diponegoro, Wonokromo Pasar, Ahmad Yani, Wonokromo, Diponegoro, RA. Kartini, Cokroaminoto, Raya Darmo, Basuki Rahmat, Embong Malang, Blauran, Bubutan, Kebon Rojo, Pahlawan, dan Finish di Tugu Pahlawan.
 
Panitia penyelenggara memberikan hadiah  doorprice dengan jumlah rincian disesuaikan dengan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Adapun rincian hadiah doorpricenya adalah 17 unit sepeda motor, 8 lemari es dan 45 unit sepeda angin, serta puluhan hadiah lainnya. Acara pembagian doorprice berakhir pada pukul 10.30 tepat. Acara pembagian doorprice diisi acara hiburan musik.


Kamis, 22 Agustus 2013

FORMI Jawa Timur Akan Menggelar Kejurnas Taichi Jien dan Kejuaraan Terbuka Wushu 2013

Penulis :
Ir. Biasworo Adisuyanto Aka, MM
Surabaya, 23 Agustus 2013

Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Jawa Timur mencoba menggagas terselenggaranya “Kejuaraan Nasional Taichi Jien 2013” di Surabaya. Gagasan terselenggaranya kegiatan ini didasari dari tuntutan komunitas Taichi yang sudah berkembang secara baik, tidak hanya di Kota Surabaya tetapi di hampir  Kabupaten’Kota se Jawa Timur. Dalam penyelenggaraan kegiatan ini, Lenmarc Mall Surabaya berkenan mendukung kegiatan ini secara maksimal. Tidak hanya, fasilitas perlombaan di dua atrium, tetapi juga perlengkapan pendukung lain seperti sound system, medali, piagam, stadge panggung, backdrop dan spanduk kegiatan, publikasi kegiatan, dll. Kegiatan ini akan berlangsung mulai dari tanggal 5 s/d 8 September 2013 di Lencmarc Mall Surabaya.

“Lencmarc sebagai salah satu plaza tersebesar di Kota Surabaya, tidak tanggung-tanggung mendukung kegiatan FORMI Jawa Timur ini” Kata Suparman, Ketua Umum FORMI Jawa Timur disela kesibukannya di Sekretariat FORMI Jawa Timur, Jl. Kayon No. 56 Surabaya. “Dukungan seperti ini sangat dibutuhkan oleh lembaga olahraga seperti FORMI Jawa Timur ini, selain belum mendapatkan dukungan dana APBD Provinsi Jawa Timur, organisasi sosial ini juga tidak mempunyai pemasukan anggaran yang jelas. Oleh sebab itu, ketika ada respon yang sangat baik dari Lencmarc Mall untuk dapat melaksanakan Kejurnas Taichi Jien ini, langsung kita respon balik dengan melakukan kerjasama”, tambah Suparman.

Drs. SUPARMAN, M.Si
Ketua Umum
FORMI Jawa Timur
Taichi Jien merupakan cabang olahraga rekreasi yang terbilang cukup lama perkembangannya di Indonesia. Sejak sebelum jaman kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, cabang olahraga rekreasi ini sudah sangat diminati oleh hampIr seluruh masyarakat di Indonesia. Selain ditinjau dari beragam seni yang terkadung dalam setiap geraknya, cabang olahraga rekreasi ini juga memiliki kandungan gerak untuk menngkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani. Lemah gemulainya setiap gerakan dan diimbangi dengan olah pernafasan yang teratur dan berirama, menjadikan peredaran darah kita pada tubuh tersalurkan secara baik dan mempunyai kandungan oksigen dalam darah yang sangat berimbang.

Kegiatan latihan Taichi Jien ini sudah merambah dan berkembang secara baik di hampir seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia. Hal ini disebabkan  adanya manfaat dalam setiap gerak yang mengandung unsur pemulihan dan dapat menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani pelakunya. Tidak hanya untuk pemulihan dan menjaga kesehatan jasmani saja kandungan unsur di dalam setiap geraknya, tetapi keindahan dan lemah gemulainya gerakan tersebut juga mengandung nilai seni yang sangat tinggi.

Sebagai motivasi dalam pengembangan dan pemberdayaan olahraga Taichi Jien ini di Indonesia, dipandang perlu diwujudkan sebuah wadah evaluasi pembinaan yang dilaksanakan secara berkesinambungan setiap tahun, yaitu berupa kejuaraan. Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Jawa Timur yang merupakan satu-satunya wadah berhimpun olahraga raga rekreasi di Indonesia, berupaya memberikan ruang dengan menyelenggaraka secara rutin sebuah kegiatan yang bertajuk “Kejuaraan Nasional Taichi Jien”. Sehingga diharapkan nantinya, perkembangan pembinaan cabang olahraga rekreasi ini akan terasa lebih cepat dan dapat dirasakan manfaat yang terkandung dalam setiap geraknya oleh masyarakat.

Disamping itu, mengingat jenis cabang olahraga rekreasi ini memiiki sumber yang sama dan mempunyai kemiripan dengan berbagai jenis nomor yang berada dalam wadah pembinaan Wushu, yaitu nomor Taulo. Maka FORMI Jawa Timur juga mencoba untuk dapat bekerjasama dengan Pengprov. Wushu Indonesia Jawa Timur. Agar dalam penyelenggaraannya nanti menjadi lebih meriah. Keinginan kita untuk menggabungkan Kejuaraan Nasional Taichi Jien ini dengan Nomor TAULO pada Wushu direspon sangat baik oleh Ketua Umum Pengprov. Wushu Indonesia Jawa Timur, yaitu dengan menerbitkan Rekomendasi/Ijin pelaksanaan kegiatan Kejuaraan Terbuka Wushu tahun 2013. Oleh sebab itu maka penyelenggaraan kegiatan ini menjadi “Kejuaraan Nasional Taichi Jien dan Kejuaraan Terbuka Wushu Junior tahun 2013”.